Salam Redaksi Majalah Tebuireng edisi33

Bismillahirrahmanirrahim,
Beberapa tahun yang lalu Pesantren Tebuireng mengadakan pertemuan alumni nasional. Para alumni yang datang yang ketika nyantri di Tebuireng adalah seorang santri biasa, melakukan aktifitas pondok yang seragam, ngaji bareng, makan bareng, sekolah bareng, kini ternyata sekarang mereka datang dengan berbagai profesi, mulai dari guru, dosen, petani, kiai, pengusaha, pejabat public, seniman, dan macam-macam.

Dalam acara itu pula Gus Ipang Wahid, wakil Pengasuh Tebuireng memberikan sambutan yang sangat baik untuk kita renungkan. Kira-kira seperti ini ia mengatakan, “Kita ingin Pesantren Tebuireng kembali meneguhkan kontribusinya untuk bangsa”. Bukan tanpa alasan Gus Ipang mengatakan demikian, beberapa dekade ini Tebuireng memang mengalami degradasi atau semacam pergeseran orientasi, baik dalam pendidikan maupun kiprahnya sebagai bagian dari sebuah bangsa.

Tidak hanya Gus Ipang, cendekiawan pesantren sendiri, Zamachsary Dofier dalam bukunya yang berjudul Bilik-bilik Pesantren mekatakan bahwa pada abad ke-20 Pesantren Tebuireng telah memainkan peran yang dominan dalam pelestarian dan pengembangan tradisi pesantren dan telah menjadi sumber penyedia yang paling penting untuk kepemimpinan pesantren di seluruh Jawa dan Madura sejak tahun 1910.

Hal senada juga disampaikan Dawam Raharjo dalam bukunya “Pesantren dan Pembaharuan” mencatat bahwa lebih dari 500 buah madrasah yang memiliki murit lebih dari 200.000 santri berafiliasi kepada Tebuireng tahun 1974. Begitu juga buku berjudul “Guruku Orang-orang Pesantren” karya Kiai Syaifuddin Zuhri menyebutkan bahwa Tebuireng adalah kiblatnya pesantren yang artinya langkah kebijakan maupun sistem yang dijalankan di Tebuireng diadopsi sebagai model pendidikan oleh pesantren lain.

Sungguhpun demikian tidaklah boleh seorang santri Tebuireng berbangga diri (utopis) dengan kebesaran itu. Sekali lagi santri harus menyadari bahwa sebuah kebesaran itu tidak dimuali dari rasa bangga diri, melainkan perjuangan yang tidak mudah, bahkan harus mengorbankan banyak hal.

Majalah Tebuireng edisi 33 ini mengajak para santri dan pembaca secara umum kembali membaca apa yang sesungguhnya perlu diperjuangkan dibalik kebesaran Tebuireng itu. Demikian itu penting dan hanya bisa diketahui dengan lebih cermat lagi menelaah pemikiran dan gagasan para pendiri Pesantren ini.

Adalah Kiai Wahid Hasyim yang pernah mengatakan, “Membaca sejarah memang penting, tapi membuat sejarah jauh lebih penting”. Artinya tidak perlu membangga-banggakan prestasi diri, meskipun itu penting untuk catatan pribadi, inspirasi bagi anak cucu, tapi tidak pernah puas dengan prestasi yang diraih itu juga amatlah penting lagi.

Edisi kali ini sebenarnya tidak bermaksud mengajak berbangga dengan kebesaran tokoh Tebuireng, melainkan justru memberikan pertanyaan: Jika panutanmu sebesar Kiai Wahid Hasyim, lantas mengapa kau tidak mengikuti jejak kebesarannya?

Itu bukanlah pertanyaan sembarangan, Allah pernah menanyakan hal yang sama kepada Bani Israel yang selalu membangga-banggakan leluhurnya sampai ia sendiri lupa belum melakukan prestasi apapun. Dalam surat Al Baqarah ayat: 134 dan diulang pertanyaan yang sama di ayat 141, Allah berfirman: “Bagi mereka apa yang mereka lakukan, dan bagimu, apa yang kamu lakukan”. Singkatnya, apa sumbanganmu bagi bangsa?

Maka benar saja apa yang disampaikan Gus Ipang dimuka, bahwa dengan mengilhami perjuangan para fonding father Tebuireng, dengan semangat yang sama Gus Ipang dan khususnya Pengasuh mengajak kepada kita para santri dan pembaca untuk mengembalikan kiprah strategis Pesantren Tebuireng terhadap kemajuan bangsa Indonesia.

Dan ahirnya, menjelang bulan Ramadhan ini redaksi menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya atas segala kekurangan dan kealphaan Majalah Tebuireng selama ini. Tak lupa kami juga mengucapkan beribu terimakasih atas kepercayaannya kepada Majalah Tebuireng. Selamat membaca.

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: