Sampai batas mana kemampuan manusia berfikir ia tak akan mampu melampaui kesederhanaan Tuhan. Dan bisa jadi yang transenden ialah diciptakan pikiran itu sendiri, seakan sudah dibuat tak redefinisi. Atau malah semacam malas menelusuri definisi dibalik transenden itu.

Filsafat-filsafat ketuhanan memang tidak produktif secara matrix-materialistik. Jika kemudian ada diktum kesudahan filsafat mengenai hal itu semata hanya pada kesemuan kebenaran saja. Karena disatu sisi mengalami stagnansi yang berkepanjangan. Padahal dimasa yang sama bahkan dalam dirinya sendiri takbisa dipungkiri ada ketidakteguhan

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: