Menakar Minat Baca Santri

Tak bisa tidak santri butuh membaca! Kita tidak boleh membiarkan santri Tebuireng pulang ke rumah dan menjadi benalu disana. Dia harus berada digarda depan memberikan pengaruh baik kepada masyarakatnya. Dalam brosur pesantren tertera “Tebuireng, Pesantren Terkemuka Penghasil Insan Pemimpin Berakhlak”

Seorang santri adalah utusan dari daerahnya untuk belajar ilmu di pesantren. Apapun awal niat dia mulai belajar di pesantren pada ahirnya dia harus memilih menjadi penonton atau seorang alumni pesantren. Penonton bukanlah amsal seorang santri. Santri adalah pelaku bahkan broker dari kebudayaan yang baik di masyarakatnya. Sekalipun dia harus menjadi penonton dia akan melihat, menganalisa, meneliti apa yang ditontonnya.

Seperti yang kita saksikan hari ini, korupsi, kekerasan, pembodohan, kemiskinan, penindasan, dan kerusakan moral dimasyarakat menuju kehancuran masal tanah air. Dalam situasi sedemikian parah itu masyarakat tidak sempat menanyakan santri atau bukan. Masyarakat tidak perlu menanyakan hal yang seharusnya tak usah dipertanyakan lagi. Akan tetapi mereka akan buru-buru meminta jawaban atas problem-problem akut itu.

Jelas itu yang akan dialami oleh semua santri. Tentu kesiapan untuk menjawab pertanyaan itu sangat dibutuhkan. Realitas hidup masyarakat global saat ini membutuhkan jawaban yang pasti, ikhtiar yang pasti. Maka sebagai seorang santri harus pasti siap menjawab pertanyaan itu sampai tuntas. Bisa dipastikan pula cara yang terbaik adalah dengan mulai mempersiapkan sekarang sebelum kembali kepada masyarakat.

Prasyarat ntuk mengetahui itu adalah dengan memahami realitas dibalik apa yang terjadi sesungguhnya. Ini dimungkinkan jika santri mau membuka mata selebar-lebarnya untuk mencari, membaca dan mencoba memahami apa yang nyata-nyata terlihat oleh mata. Kitab-kitab, buku-buku, halaqah-halaqah, diskusi-diskusi, musyawarah adalah alat untuk mengupas realitas hidup sesungguhnya.

“Alat” Itu di Tebuireng

Pertanyaannya sejauh mana kondisi kemungkinan (conditio sin cua non)untuk membaca?

Jika pertanyaannya demikian maka dimungkinkan dua faktor yang melingkupinya, faktor subjek (santri) dan faktor objek atau yang dibaca (buku). Si santri butuh membaca karena ia adalah santri, pelajar. Dan sejauh mana rasa berkebutuhannya terpenuhi di pesantren. Selanjutnya si kitab atau buku, sejauh mana buku tersedia di pesantren.

Santri tentunya bermacam-macam kebutuhan membacanya, ada yang rendah ada juga yang keranjingan buku. Menurut sebuah penelitian, tinggi-rendah minat baca itu tergantung bagaimana keadaan orang membutuhkan informasi. Santri tidak akan membaca kalau tidak ada PR, dia butuh menyelesaikan PR maka dia membaca. Sebenarnya ini pernyataan keliru tapi siapapun tidak dapat menemukan pembenarannya. Santri yang rendah minat bacanya kemungkinan besar dia nyontek PR-nya.

Itu artinya, mengobarkan minat baca santri harus dilakukan tidak hanya didalam ruang pesantren tapi juga dalam ruang privatnya. Maksudnya menciptakan atmosfer ilmiah sederas mungkin sehingga memungkinkan santri dengan sendirinya membaca untuk kebutuhannya, bukan kebutuhan PR. Ini bisa dilakukan dengan kembali mengaitkan semua kegiatan santri dengan unsur ilmiah yang terkandung dalam kegiatan itu.

Tantangan serius pula, di Pesantren Tebuireng ada beberapa perpustakaan, perpus pesantren, setiap unit sekolah punya perpus. Hasil survey kami mengatakan dari total 3000 santri rata-rata hanya 5% anak yang berkunjung ke perpustakaan setiap bulannya. Jangan sekali-kali mengatakan lebih baik dari pada tidak. Ini menunjukkan betapa rendahnya nilai ilmiah di sebuah pesantren yang seharusnya sebagai pusat kegiatan ilmiah.

Jika faktanya perpustakaan tidak cukup menarik untuk dikunjungi. Pun jika bukan karena ingin nonton film dan baca koran atau main komputer santri sedikit mengunjungi gudang buku itu. Kitab-kitab dan buku-buku penunjang penting diadakan lebih dari porsi yang dibutuhkan santri. Pesantren sejatinya mencita-citakan selangkah lebih kedepan dari cita-cita santrinya: ketersediaan buku sebaiknya lebih banyak dari yang dibutuhkan santri.

Ternyata apa yang ada saat ini masih jauh dari yang seharusnya. Jika sekali lagi mengingat tagline “Tebuireng, Pesantren Terkemuka Penghasil Insan Pemimpin Berakhlak”. Apakah santri, seorang pemimpin itu akan kembali kerumah dengan tangan hampa? Betapa perlu dan mendesaknya membangun, sekali lagi membangun minat baca santri!!

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: