Cinta Buku: Tidur Seranjang

Satu waktu saya berkunjung ke kamar santri. Tak sengaja saya melihat pada salahsatu ranjang ada bantal, selimut, sarung, kopyah dan kitab salingtumpang. Sementara itu pada ranjang sebelahnya buku-buku, kitab-kitab tertata rapi, terpisah dengan pakaian dan bantal.

Penasaran, saya iseng bertanya kepada pembina kamar, itu ranjangnya siapa dan yang sebelahnya juga siapa. Usut punya usut, menurut sang pembina anak yang ranjangnya berantakan itu anaknya rajin, nurut, dan “baik” sedangkan ranjang yang rapi anaknya agak pendiam, tidak banyak bicara tapi “nakal” (reaktif, red) bahkan beberapa kali terlibat kasus pelanggaran peraturan pesantren. Karena merasa aneh saya bertanya kenapa anak yang rajin itu justru berantakan dibanding anak yang pernah terlibat kasus? Sang pembina juga bisa dipertanyakan, yang dimaksud rajin menurut pembina itu rajin apa?

Tanpa mempersoalkan kedua anak itu dan pembinanya lebih lanjut, saya melihat satu hal bahwa buku mereka berada di ranjang. Tidak ada yang salah dengan buku diranjang, tertata rapi atau bukan mungkin si santri saking cintanya sama buku sampai dia tidurpun membawa buku.

Ada lagi saya melihat buku atau katakanlah kertas bertulis di (maaf) jalan menuju kamar mandi. Pernah juga saya melihat buku di bawah ranjang, nyelempet di ventilasi jendela, di bawah tangga gedung, di kaki bedug, dan di rak sepatu. Sementara hanya ditempat itu saya melihat ada buku berserakan, entah jika ditempat lain yang tak semestinya juga ada.

Apabila buku itu dimana-mana karena santri kemana-mana membawa buku, cinta buku itu OK! Apalagi mereka sudah barang tentu tau kalau ulama-ulama juga kemana-mana membawa buku, apa lagi Gus Dur. Tapi alangkah sedihnya melihat buku berserakan sedangkan kita tau saudara kita di daerah terpencil sangat sulit mendapatkan buku. Bahkan disana sulit mendapatkan koran hari ini karena koran hari ini akan sampai di daerah setelah beberapa hari kemudian.

Buku adalah jendela dunia, begitu kata kebanyakan motivator pelatihan kepenulisan. Itu karena melalui bukulah kita bisa tau huruf I-N-I-I-B-U-B-U-D-I dibaca “ini ibu budi” kemudian dari situ kita mengetahui ilmu, agama, dunia, pesantren, sekolah, takdzim, sopan santun, jabo, dll yang sangat banyak ini. Bisa dibayangkan jika anda seekor katak didalam tempurung.

Lebih dalam lagi Hadratusyaikh Kiai HasyimAsy’ari, dalam kitab Adabul Alim Wal Muta’allim menyerukan kepada kita untuk menghormati ilmu. Selain menghormati guru, salahsatu tanda hormat kepada ilmu adalah dengan menghormati kitab atau buku. (hal…). Hal senada juga disampaikan Syaikh ……, dalam kitabnya Ta’limul Muta’allim yang diajarkan kebanyakan pesantren di dunia.

Yai Hasyim menuliskan bahwa………
Seperti itu karena akhlak seorang santri haruslah senantiasa ditata dengan baik. Untuk perintah ini beliau menggunakan kata “menata” dengan maksud akhlak yang baik bukan yang berlebihan menghormati sesuatu tapi menghormati sesuatu sesuai apa yang seharusnya. Ambil contoh menaruh buku di lantai itu tidak baik, menaruh buku di ranjang itu juga tidak baik. Lantas yang baik bagaimana?

Menurut Mbah Hasyim, menaruh buku yang baik itu ditempat yang lebih tinggi seperti ditata diatas meja, di rak buku, atau didalam almari. Membawa buku pun harus dengan baik juga. Tidak boleh membawa buku dicangking seperti membawa makanan, atau menaruh dalam tas yang tas itu nggantung sejajar dengan pantat. Akan tetapi membawa buku yang baik harus didekap didada.

Dengan menghormati buku berarti menghormati ilmu. Dengan menghormati ilmu berarti menghormati hidup karena kita diperintahkan mencari ilmu sejak minal mahdi ila lahdi. Bagaimana mungkin kita memperoleh yang kita cari jika kita tidak berlaku baik kepada perantara untuk menuju ilmu. Jika kita baik kepada guru, guru itu akan dengan senang hati menunjukkan ilmu. Jika kita baik kepada buku, buku yang kita baca itu akan mudah dipahami.

Bangsa Yunani berperadaban maju karena mereka menghormati ilmu. Dinasti Abasyiah gemilang karena menghormati ilmu. Tidak ada satu orang santripun mendaftar di sebuah pesantren tanpa berkeinginan mencari ilmu.

Silakan difikirkan untuk apa pesantren menyediakan makanan siap saji? Yaitu agar santri mempunyai waktu lebih banyak untuk ngaji, belajar, mencari ilmu, membaca!!!

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: