Rekonstruksi Diri

Gerakan Indonesia mengajar yang digagas oleh Anis Baswedan berhasil menggerakan bangsa ini untuk peduli terhadap pendidikan. Yang patut diapresiasi adalah kepeduliannya tidak hanya terhadap pendidikan moral atau yang bersifat akdemis, afektif dan psikomtrik dalam makna teoritis, namun kepeduliannya teruntukkan kepada mereka yang tidak atau barangkali belum terjamah makna teoritik tersebut. Besar kemungkinan itu disebabkan oleh faktor akses.

Yang saya maksudkan adalah bagaimana jika nilai-nilai luhur sejenis “mengajar” diatas juga dimunculkan dalam sebuah gerakan masa, hadir ditengah gegaduhan hari senja ini.

Bisa dibayangkan jika, ada Indonesia Membaca; menjamah pelosok-pelosok negi ini. Indonesia me…, me… dan me-me yang lainnya.

Misalkan Indonesia Merenung; diperuntukkan kalangan elit dengan harapan mampu mengimplemantasikan renungannya. Bukan seperti renungan yang hanya renungan seperti selama ini terjadi sehingga pantas saja beberapa orang menganggap sebagai ahli ilmu kebatinan, penuh pemikir dsb, melulu berfikir, membatin sampi tidak “terlihat” kerjanya. Tentu bukan itu.

Silahkan Anda mengatakan ini parodi atau sejenisnya terhadap gerakan itu. Perlu dicatat, hal semacam ini telah digagas sejak djaman doeloe sekali. Marx telah berjasa dalam hal ini. Marx telah memindah kalam klasiknya Hegel yang terlalu theosentris menjadi sebuah mesin penggerak.

Hegel awalnya hanya berbicara, memikir dan merenungkan tentang “Tuhan”. Sama sekali tidak erjadi apapun terhadapnya, terlebih terhadap lingkungannya. Kemudian Marx datang mengajak Hegel “keluar rumah” jalan-jalan menyusuri tetamanan, pedesaan, dan kolong-kolong. Marx berusaha menunjukkan bahwa apa yang telah difikirkan Hegel sampai susah payah tadi “bisa” berfungsi sebagai sesuatu yang lebih berguna terhadap lingkungannya.

Bahwa memikirkan Tuhan dengan cara itu pada ahirnya tidak akan bermanfaat apapun. Jika demikian sehingga sama saja dengan menghilangkan kuasa Tuhan. Bahwa seolah-olah Tuhan tidak melakukan apapun.

Maka, kata Marx, apa yang kita fikirkan tentang Tuhan itu mari direpresentasikan pada kehidupan sehari-hari. Mari ! kata Marx, kita jadikan renungan kita ini sebagai “mesin penggerak” yang nantinya akan benar benar nyata bisa dirasakan indra.

Di abad ini gagasan itu dimantapkan lagi oleh Hasan Hanafi. Beliau menganggap teologi Islam belum menjadi darah ataupun daging, juga tidak bisa dimakan seperti ruti. Yang diinginkan Hanafi adalah mentrasformulasikan theosentrisme manjadi antroposentrisme. Sehingga diandaikan apapun yang berkaitan dengan “ketuhanan” bisa landing dengan halus dikehidupan praktis, bahkan menjadi gerakan sejarah (Sholeh:2004).

Fenomena “rekonstruksi” dari cara berfikir yang individualistic menjadi gerakan sosial telah menjalar dan berkembang kepada semua model pemikiran. Rekontruksi sudah menjadi sebuah trend alternative bagi smua pemikiran yang dipandang pasif atau berorientasi vertikal saja. Sebenarnya ini bermula ketika pemikiran awal dianggap tidak mampu memberikan solusi praktis. Yang dimaksud adalah ketika pemaknaan terhadap ritual keagamaan, misalkan, justru malah membonsai makna ritual itu sendiri. Seorang yang sungguh-sungguh ingin mengabdikan dirinya kepada Tuhan justru malah meninggalkan tugas inti yang diperintah Tuhan.

Kini tren itu menemui masanya dan berhasil membuat segala hal menjadi nyata. Tak pelak, tasawuf yang dikenal mampu menyibak kebenaran hakiki pun juga ikut trend ini. Tasawuf yang merupakan metode kolektif dan privasi pun kini berganti wajah menjadi bisa dirasakan desahnya.

Dalam dunia tasawuf, telah dilakukan pemaknaan ulang terhadap maqomat dan ahwal. Mujahadatun nafs atau tindakan jihad melawan hawa nafsu agar sampai pada maqomat (tingkatan) luhur menjadi tak sekedar ritual kolektif.

Bahwa keburukan hawa nafsu dewasa ini telah sempurna akutnya. Dalam setiap sektor kehidupan, mau-tidak mau harus menyematkan kefatalan. Sangat halus hingga sukar dibedakan keburukan dan kebaikan, keduanya telah berbaur. Dosa dalam tasawuf tidak hanya berakar pada diri (nafs) tapi juga akibat rusaknya (fasad) struktur sosial.

Maka untuk mencapai tujuan (Allah) seorang salik harus bermujahadat tidak hanya dalam dirinya sendiri, pun jihad dalam memerangi ketimpangan sosial, kemiskinan, bobroknya moral dan penindasan. Justru perkara inilah yang dianggap jalan (thoriqoh) terbaik untuk menuju kesalihan.

Dari pemahaman ini, mungkin segala macam bentuk ritual menjadi penting. Keintiman manusia dengan Tuhannya menjadi lebih ngeh karena dilalui dengan perjuangan yang nyata, praktis melibatkan jiwa dan raga.

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

3 comments

  1. yah beragama bkn hanya fokus pd pemenuhan diri kita sndiri dng ritual2 keagamaan semata,tp jg memperhatikan lingkungan dan kondisi sosial yg ada,hablu minallah dan hablu minannas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: