Filosofi Berbahasa; Surat Buat Ibu Guru

Bu Yhanie Exda, gapapa kan jika saya kangen Ibu..
Cerintanya gini Bu, saya kan ngabdi di unit penerbitan Pesantren Tebuireng terhitung sejak 2010. Sejak saat itulah saya sering berdialog dengan pengasuh (Gus Sholah).

Setiap saya sowan, selalu saja ada “cahaya” dan “udara” juga “air” yang baru dan mencerahkan dan menyejukkan juga menyegarkan. Beliau amat sangat berharap agar kami juga para santri semua agar tekun “MENULIS”.

Kenapa menulis?

Gus Sholah seorang penulis lho Bu..
Tapi tidak hanya karena itu beliau meminta kami untuk menulis. “Santri sekarang hanya mau mendengar, selain itu, mereka hanya gemar berbicara. Kalau disini, Alhamdulillah mereka sudah banyak yang suka membaca. Tinggal satu yang belum, menulis”.

Beberapa waktu setelah itu saya baru ingat “pelajaran” ini pernah Bu Yhani sampaikan dikelas. Bahwa ada empat keterampilan dalam berbahasa; mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Ingat kan Bu?? saya ingat betul, saat itu ruang kelas kita masih di gedung MI Hasyim Asy’ari.

Saat ini, setelah sekian tahun pelajaran itu berlalu, saya baru mengerti bahwa yang dimaksud mendengar adalah menyimak apapun yang terjadi di lingkungan kita. Dan berbicara adalah menyuarakan segala hal tentang kebenaran (asyiik). Berbicara juga berarti bertindak menurut saya.

Selanjutnya, sekarang saya juga baru tau bahwa membaca bukan sekedar masalah tekun dalam belajar, tapi juga SANGAT TEKUN dalam belajar. Selain itu, membca juga bermakna mengkaji fenomena dilingkungan kita. Apapun yang kita temui bisa dibaca; situasi, kultur pesantren, analisis sosial dan sejenisnya.

Yang terahir paling sulit saya lakukan. hee.. Menulis.
Menulis bagi saya bentuk utuh dari ketrampilan mendengar, bicara dan membaca.

Menulis dari yang saya fahami (berdasar pelajaran yang Ibu sampaikan sekian tahun yang lalu) adalah keterlibatan diri dalam kehidupan. Maksud saya begini, jika saya sedang menulis (apapun itu) tentu apa yang saya tuliskan itu adalah hasil rekaman (mendengar), pengalaman (bicara) dan analisa (membaca) saya.

Dari sini saya mulai mengerti bahwa apa yang disampaikan Ibu amatlah bernilai dan terpatri dalam “hidup” saya hari ini. Dari pemahaman itu pula saya sampai sekarang tetap merasa dekat dengan guru-guru saya, Ibu dan Gus Sholah.

Mungkin saya akan banyak mengirimkan surat buat Ibu setelah saya bisa menuliskan banyak hal.

Ibu sangat berarti bagi saya.
Terimakasih Bu Yhani,,
Semoga Ibu selalu berbahagia dalam lindungan Allah.. — bersama Yhanie Exda.

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: