Pertanyaan Itu

Sewaktu saya sowan kepada Gus Sholah bersama para Frather (sebutan untuk calon pastur dalam agama katolik), ada pertanyaan bagus untuk beliau. Salah satu dosen Katolik itu bertanya “Bagaimana Gus memaknai sholat?”

Sementara yang akan saya soroti bukan jawaban beliau, tapi kira-kira Dosen Katolik itu bertanya seperti itu dengan motif apa? (Mohon para pembaca tidak terjebak pada persepsi yang salah disini) Coba kita tebak: apa kepentingan dosen bertanya sholat? Bagi saya ini luar biasa, ya, karena dari pertanyaan ini sang dosen melihat dualisme dalam perihal sholat.

Mungkin (dan ini seharusnya terjadi) sang dosen kagum dengan ritual sholat. Jika ini yang terjadi, kekaguman dosen Katolik dari sisi mana? (Tebakan untuk mahasiswa mahad aly) Tentu Dosen itu tau (mungkin dari buku islami yang sudah ia baca karena yang saya tau seminari juga mengajarkan Al Farabi, Ar Rusyd ataupun Al Ghazali) bahwa sholatlah alat pemersatu paling efektif. Seperti yang kita yakini bahwa konflik apapun tidak akan terjadi jika umat memaknai sholat dengan makna yang sebenar-benarnya. Mungkin juga kekaguman itu bisa datang dari banyak sisi lain.

Tapi sepertinya pertanyaan itu lebih karena kekecewaan. Asumsi awal Dosen itu terhadap sholat memang membuat decak kagum (pasti ini diperoleh dari buku). Namun setelah dosen katolik tersebut membaca “buku” sosial yang nyata pada kehidupan praktis…. Dan hasilnya mengecewakan (ini akan diceritakan gus Sholah nanti).

Makanya dosen tersebut menanyakan makna sholat. Sebagai persepsi seorang Gus Sholah terhadap dualisme dalam sholat. Ini wajar, karena umat nonmuslim memang seringkali bingung dalam hal ini, atau lebih tepatnya menyayangkan (siapapun, agama apapun menyayangkan kebaikan yang tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh).

Kemudian benar saja, Gus Sholah menjawabnya dengan kekecewaan. Karena pertanyaan itu lebih condong kepada kemungkinan kedua. (haha.. sudah akui saja wahai sayaa…!)

Pada intinya Gus Sholah memang kecewa banyak umat islam yang tidak memaknai sholat dengan sebenar-benarnya. Ada orang sholat yang masih berbuat kejahatan. Padahal, Sholat jika dimaknai dengan sesungguhnya bisa berfungsi “tanha Anil Fahsya’ wal Munkar” (mencegah dari perbuatan keji dan mungkar).

Tapi itu tidak berfungsi optimal dalam diri umat islam. Tentu ini hanya oknum, tapi karenanya makna sholat tercoreng, dan itu yang terlihat oleh masyarakat umumnya, terlepas dari apakah yang menyaksikan adalah orang nonmuslim atau tidak. Dan memang hal itu perlu kita renungkan bersama-sama.

Keep our prayer.. (jare Bang Atunk Nrimoingpandum)

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: