Filosofi Kekasih Fuko

Jika kecantikan itu relatif (kata kebanyakan orang) maka berterimakasihlah kepada saya karena saya menganggap semua wanita itu cantik.

Maka juga, konsep bahwa Kekasih adalah yang hadir (Fuko) relevan dalam hal ini. Sehingga kadar kasih seseorang ditentukan oleh kadar “kehadiran”nya untuk kekasih. Misalnya, seorang rekan atau orang tua mendampingi kekasih sepanjang waktu berarti sepanjang waktu pula kasihnya. Namun jika sedikit berbeda dari itu, hanya mendampingi sesaat saja maka sesaat itulah kasihnya.

Berikutnya lebih dari sekedar itu, Fuko yang mengatakan bahwa Jiwa adalah penjara Tubuh seakan mengisyaratkan bahwa konsep “Kehadiran” tidak bertempat pada waktu. Karena jika kehadiran bertempat pada waktu maka barometernya adalah materi. Jika kehadiran hanya berbentuk materi lantas kemudian dimaknai bahwa kekasih itu adalah bersifat materil. Tentu mengerikan.

Jadi yang dimaksud Fuko sebagai penjara adalah otoritatif Djiwa terhadap tubuh sangat sempurna. Jika jiwa sakit, tubuhpun akan “sakit”, namun jika tubuh yang sakit, djiwa tidak harus sakit pula (Jika demikian indah sekali).

Djiwa adalah komponen manusia (rasa) yang tidak menempati ruang ataupun waktu. Dari sini bisa difahami bahwa Jiwalah Sang KEKASIH. Karena Djiwalah yang sesungguhnya mampu hadir tanpa interfensi waktu dan materil.

Kali ini Fuko benar-benar telah menjadi “kekasih” yang setulusnya.

Lalau seorang mahasiswa mahad aly akan mengandaikan Fuko suka meng”kasih”i semuanya (ketika saya seusia TK menganggap ini PLAYBOY). Fuko akan mengasihi semuanya, baik wanita (maaf) buruk maupun wanita anggun. Dan bahkan ia akan mengasihi sesamanya (Khairul Falah demen baget yg kaya gini). Karena Fuko tidak tidak mengukur kasih dengan yang wujud materil.

Lantas bagaimana seseorang bisa menjadi berpasangan? Apakah Fuko akan bergonta-ganti pasangan dan “memasangkan dirinya dengan semuanya?

Fuko menjawab hal ini sebagai seorang filsuf, bahwa kekasih (seperti yang dijelaskan diatas) adalah djiwa yang hadir secara total untuk kekasihnya. Sehingga, kehadiran djiwa tidak bersifat kalkulatif.

Jelaslah sudah Fuko menginginkan semua mengasihi semua (terinspirasi homo homini lupusnya Thomas Hobbes). So, bagi mahasiswa mahad aly yang tadi agar belajar dari Fuko dalam mengasihi semuanya.

Dinda, 22/04/2013

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: