Pohon Itu Dipangkas

Cinta lingkungan (alam) sebagian dari “pencitraan” (iman saat ini bukanlah idola/ life style). Sebelum jiwa ini mendekam di Mahad Aly, Djiwa ini sempat bejibaku dengan lelumpuran dan tetumbuhan (deso: Petani).

Saat itu Djiwa ini tau dari bebijian yang dijumput satu persatu, dielus-elus, disemai, ditanam dengan hati dalam ladang panjang penuh terik. Kemudian Djiwa ini ikut menjaganya dari hama: werang, tikos, walang, uler, manuk dhl (dan jenis hama tanaman lainnya). Sampai Djiwa ini dan banyak djiwa-djiwa lainnya gosong terpanggang terik heharian tak terhitung.

Ahirnya Djiwa ini mendapatkan kepuasan ketika melihat dedaunan padi itu menguning. Bukan karena Djiwa ini ingin memperbuncit perut, lebih karena ada ke”imanan” yang banyak orang menganggap itu “pencitraan”.

Jika saat ini Djiwa ini menangis karena pohon itu ditebang, itu bukan pencitraan. Lebih karena kasihan melihat iman beterbangan hilang dari Djiwa (sebenarnya itu tak pantas disebut Djiwa) disekitar kita.

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: