Kekakuan Tulisan Sepanjang Ingatan

“Hari ke berapa ini setelah hari itu?” mencoba mengingat meski sebenarnya ingin jauh jauh dari merasa terbebani. Menuliskan banyak hal disini tak cukup membantu. Apa kata hujan jika tanah tak mau basah. Segalanya perlu kesabaran dan pelan saja pasti akan terbiasa. Namun kekakuan menjadi rasa paling tak enak dalam tetulis yang sudah-sudah. Benar saja itu jadi catatan dan barangkali bahan tertawa nanti, juga hari-hari dimana tilisan itu dibaca ulang.

Sebahagian Penulis akan menyeringai padam, yang lain tentu lebih parah, membuang semuanya secara meteril dam mengambil abu yang tak banyak memakan tempat. Posisinya sekarang yang kedua, benarkah menuliskan banyak hal disini tak cukup membantu atau bahkan membangun keraguan dan pesimistic particular. Tidak ada yang seperti itu jika yang kedua tadi yang dominan. Akan lebih tepatnya tetap menuliskan banyak hal disini dan menuai abu tak banyak tempat sebanyak tempat. Namun itu bukan jawaban terahir bagi penulis kaku.

“Hari keberapa ini setelah hari itu?” Penulis akan mengulangi seperti ini jika ia terlalu mekar. Seperti bertele-tele tak rampung sekali saja. Biasanya ini seperti sedang memulai sesuatu. Memang dilakukan oleh pemulai, pakai “i’. Kadang tulisan itu sendiri tidak tau jalan sebuah ide. Pun dmikian, ide tidak selalu bisa langsung berdialog dengan tulisan. Bisa jadi menuliskan ide akan lebih memperumit ide itusendiri. Bisa juga ide itu hanya dilafalkan dalam bentukan yang mudah difahami, meskipun hanya seperti wewangian dalam sebentar saja akan hilang.

Selanjutnya kaku semakin menyeruak dirumitnya dialog ide dan tulisan. Tak pelak tulisan mungkin akan menghantam jalan ide kemuidan membangunya di seberang, kemuidan dihantam lagi dan menjadi semakin jauh tapi membentuk ide-ide lain.

Sungguh sebenarnya ini yang perlu disampaikan seorang penulis kepada dirinya. Bisa saja penulis menceritakan banyak kata dalam seminar atau pelatihan kepenulisan, tapi itu tidak membantu secara liar bagi pemulai tadi. Apalagi tulisannya masih kaku. Di masing-masing alam privat manusia terbentuk proses empiriseis rumit dan berbeda. Meski kebanyakan orang ketika membaca sebuah tulisan seperti telah mengalami tulisan itu. Disitulah kerumitan tak terjelaskan. Tidak semua pembaca membaca dan sekaligus menulis.

Apapun-bagaimanapun bentuk kerumitan, sekiamat apakah ia, sekuasa apakah ia masih terjawab oleh mengabaikannya.

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: