Kumcer Cakra Punarbhawa, Wayan Sunarta 2005

Kumcer Cakra Punarbhawa, Wayan Sunarta 2005

Seberapa berdaya kemelut fikiran bisa meniduri tuannya. “Saya sendiri yang akan meracuni” kata seorang kawan dari seberang. Ya, dia tau caranya, mungkin salah satunya gara-gara pernah membaca kumcernya Wayan Sunarto. Berbeda dengan kawannya yang juga diseberang, ia sudah lama kemulut tapi tak segera berlaku sama. Wa ba’dah, si Cakra Punarbhawa bermuara, saya harab ditangan saya ini Cakra berhasil melakukan tugasnya sebagai pencerita.

Adalah Wayan Sunarta pernah belajar Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. (http://jurnal-jengki.blogspot.com)Suka menulis puisi sejak awal 1990-an dan berlanjut prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel. Karya-karyanya itu bejibun di media masa yang macam-macam itu, seperti Tempo, Kompas, Bali Post, Horison dll. Yang terkumpul dalam sebuah buku pun banyak, seperti Cakra yang sedang kita bicarakan ini, Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005), Perempuan yang Mengawini Keris (Jalasutra, 2011). Buku kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana Bandung, Juni 2010). Latar belakang itu bisa menjadi sebuah indikasi bahwa Cakra terlahir dari melalui proses akademis yang melelahkan. Artinya, dalam amanatnya, Cakra tidak sembarang “cakra” yang awut-awutan. Jika diusut, Cakra memiliki sebuah bangunan yang bisa dipertanggung jawabkan. Kira-kira begitu.

#1
Sebuah cerita adalah dialog bagi sebagian penulis dengan alamnya, begitu pula Cakra. Cakra lahir dari kultur penulis terhadap lingkungan. Memang itulah tugas dari sebuah tulisan, membawa sesuatu dan merubah sesuatu. Kultur Bali yang ditampilkan dalam cakra memberikan banyak informasi yang sebelumnya kita tidak tau. Membaca Cakra seperti membaca Bali, sayang belum mampu menghadirkan kita disana. Tapi sudah lah, Cakra punya cakranya sendiri, dia hidup untuk mewarnai.

Lebih dari itu, Jengki sebagai kritikus sastra menyajikan cerita dalam kritiknya, atau menyajikan kritik dalam ceritanya. Seperti buku sebelumya, Purnama di Atas Pura yang diterbitkan Grasindo. Akhir 2005, juga sarat akan pembicaraan tentang resah, beda, tidak, dan istilah-istilah lain dari kontradiktif. Bali yang hingga saat ini masih bersitegang antara tradisi dan modernitas memerlukan itu. Itu yang disematkan Wayan dalam garis demi garis cerpennya. Hal yang sama juga di tulis oleh Aryantha Soethama, bahkan dalam bukunya ketegangan itu sangat terasa.

Bisa kita lihat dari sekian banyak cerpenis Bali, mereka menyuarakan satu, Bali. Diantaranya Putu Wijaya, Nyoman Rastha Sindu dari generasi tahun 70-an –yang terkenal dengan cerpennya, “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar”, Kadek Sonia Piscayanti. Kemudian di era pos teror mulai gencar kisah karena Bali sudah punya tambahan satu tema besar, Terorisme dan akarnya. Ada nama Oka Rusmini dengan kumcer Sagra, Putu Fajar Arcana menerbitkan Bunga Jepun dan Samsara, cerpenis yang sempat menjadi tapol, Putu Oka Sukanta menulis Rindu Terluka, Sunaryono Basuki Ks; Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura, Gde Aryantha Soethama; Mandi Api yang mendapat hadiah Khatulistiwa Award. Hingga tahun 2007, tiga cerpen sekaligus: Kadek Sonia Piscayanti; Karena Saya Ingin Berlari, “Padi Dumadi” karya Made Adnyana Ole dan “Penari Sanghyang” karya Mas Ruscitadewi. Juga kumpulan cerpen bersama “Obituari bagi yang tak Mati” yang memuat 10 cerpen terbaik Bali Post 2001. Kompas juga menerbitkan buku kumpulan cerpen pilihan Kompas 2004, Sepi pun Menari di Tepi Hari yang memuat tiga cerpen pengarang Bali yakni Cok Sawitri, Putu Fajar Arcana dan Wayan Sunarta.

#2
Bagi pemain kata, membuat pembaca meng-emosi-kan tulisannya itu adalah sebuah perjuangan. Akan tetapi Jengki, Julukan ke-Beli-an Wayan Sunarta, tidak tertarik untuk sekedar membuat itu. Ia tidak terlalu metafor dan bernafsu ketika bersetubuh dengan cerpen-cerpenya. Pilihannya membuat kejelasan penyampaian makna kepada pembaca. Ia sangat Bli banget.

Saya pernah membaca kumcer lain. Jika dibanding dengan Cakra, keduanya tak jauh beda. terdiri dari cerita-cerita, metafor, satu habis, satu kata dan plus minus tentunya. Namun sebenarnya yang saya maksud bukan itu, melainkan saya membaca banyak kumcer seperti membaca sebuah, hanya sebuah cerita, menyuarakan satu, hanya satu suara. Dengan berjuta metafor, mendayu-dayu, bertele, dan tidak bisa cepat selesai karena meng-emosi-kan tadi. Jika saya mengatakan ini adalah karena Cakra berhasil seperti kumcer-kumcer lainnya. Selamat.

cakra

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: