Prof.

Perjalan Surabaya teramat hormat bagi Prof semenjak dibebaskan dari sesat. Empat puluh tujuh tahun lalu menjadi akar keramat. Pangkal dari Heh. Selamat dari sekian renta masih membayang di sepanjang jejalan. Penuh parit, terjal, namun seperti dalam bus pengantar peziarah. Tak tau jalan, tau tujuan.

Haus membuat Prof lebih dikenal saat ini. Saat semua menjadi berbeda. Memiliki ceritanya dan kembali. Disini, di kamar ini lagi. Kursi bernama Tebuireng mengenali berjuta pantat pryai dan kyai. Tak jarang nanah meletup memoles dudukan. Sejak ada kursi itu mejadi tak lazim belajar itu. Tak sama dengan kekalian faraidh dan falak.

Jika dahulu insan didepan kami itu bernama Qorek, sekarang ia kami panggil suhu. Berbeda sekali seperti kumpulan lawan yang dulu bernama musuh, sekarang dikawan.

Qorek setiap sore dan petang menyanyi lagu barat. Lagu-lagu pengalir kerabat duka. Memberikan supsup kepada tetangga, lantas tanpa meminta bayaran. Kata mereka semua itu sudah berlalu. Membias ditengah bisingnya saya dan kawan bernadzam. Disudut pilar pada setiap bangunan yang dianggap suci. Berlomba seperti sebelum kesini dan seterusnya sampai kita disebut alumni.

Indahnya, amboi dalam kalam yang terlafadz doble secara sempurna dan sistematis seperti Istaqim. Hanya itu yang paling mudah diingat. Selanjutnya buka lembaran berarti ! temui berita-berita yang diulang-ulang. Dalam pelajaran sebelumnya menanggung beban selanjutnya. Tak ditemui sekarang hilang jika kau teruskan.

Ada alam lain dan masih banyak lagi.

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: