Pelaut, Nahkoda dan Laut juga Garam

Saya dulu seoarang pelaut. Berenang ditengah ombak memakai sarung dan peci, putih warnanya, yang saya tau itu warna namanya putih. Seandainya saja ada ibumuda mengajari saya berwarna, pasti lekas bisa. Takada yang lupa.

Pelaut seperti saya jumlahnya teramat padat. Memadati skoci-skoci dan bilik-bilik. Hanya beberapa yang asing, memilih tempat di dekat air garam, sebagian menunggui tempat mesin dan sebagian yang lain berada disaku nahkoda.

Kami bernama pelaut. Membangkang kepada laut. Melintasi gunung-gunung ombak sekalipun tenggelam nasinya. Pelaut tak segan mengambil ikan dengan paksa. Kami tak meminum garam kecuali sedikit. Mendongak keatas berkawan dengan teropong membaca langit. Kami pelaut. Rasi berbicara panjang lebar menunjukkan arah perdamaian dan matahari.

Seorang pelaut kawanku pernah berkata, ditengah katanya menghembuskan darah. Darah-darahnya tertumpah disapu cecipratan garam. Hilang diikuti darah berikutnya. Sungguh malang kalihatan. Katanya ia dari negeri dalam peta. Sebelah gunung berapi berwarna putih, yang saya tau itu warna namanya putih. Seorang itu ingin sekali tak kesana. Ia alpha dalam trauma, bungkam. Di negerinya terhampar lukisan yang miniaturnya sudah pernah kita lihat dalam catatan laskar.

Kawan itu malu, tak bisa membedakan warna lukisan, sama sepertiku.

Saya tanya kembali, lalu kenapa? Sami’na wa atho’na, jawabnya. Jika nahkoda bertitah, jangan ada yang bersua melamun lain.

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: