Kalian

Pernah kah Anda punya kawan yang sudah wafat? Sudah berapa orang teman yang meninggalkan kita dimasa mudanya? Saya kadang berfikir, bagaimana jika saya?

Jika saya hitung sudah lebih dari 7 kawan yang pergi begitu saja. Bahkan sebelum kami (saya dan dia) sempat saling mengundang.

Ada kawan ketika masih usia TK, Alfan namanya. Tak tau pasti apa sakitnya. Selang sekian tahun, ketika Jambore, dua kawan sekaligus bermain bersama, mandi bersama, tapi ia pergi dahulu sebelum sempat mengeringkan badan. Ia terbawa arus sungai yang tak sedang banjir.

Masih ketika Jambore, tiang menjulang pengibar trias laskar roboh diterpa takdir. Membawa nyawa kawan saya itu roboh bersama. Kepalanya bernasib lebih parah dari sendi tiang dan ketawa sang angin. Selebihnya saya tak ingat itu.

Tak lama dari kejadian itu, Hampir saja giliran saya. Motor seorang guru tak sengaja menendang tubuh siswa. Kisah itu penuh darah. “Jangan disuntik !” “Jangan disuntiik !” sekalipun darah memenuhi seragam guru disiplin itu. Saya ingat benar, karena tokoh utamanya saya. Syukurlah !

Sampai saya memulai permainan-permainan. Berkenalan dengan teman baru di bangku sekolah seberang. Telah lupa kawan dan kematian. Tiba-tiba..

Datang menghujam, tak kenal kawan siapa dan apa mimpinya. Kawan saya yang kemaren berpamitan, kawan yang hanya saya..

Ustadz, saya kirimkan Qosidah Burdah sebagai penerang. Saya yakin Engkau sudah bersama Rasul disana. Sayang sekali saya tak sempat melihat perkelahianmu seperti yang kau ceritakan.

“Is it because of your remembrance of the neighbours of Dhi-salam

That tears mixed with blood are flowing (from your eyes)”

“Or is it because of the breeze blowing from Kaazimah

Or it is the lightning struck in the darkness of the night Idam”

“Bashorhat has happened to your eyes, (the more) you tell them to stop, the more they continue flowing

What is the matter with your heart, (the more) you tell it to come to its senses, (the more it is distracted)”

“Does the lover think that his love can be concealed

While his eyes are shedding tears and his heart is glowing.”

Kemudian kita menangis bersama dalam bait bergejolak. Merindukan cahaya yang telah sampai pada pelupuk, namun tak bisa direngkuh. Ingat kah jika ini saya bacakan kembali untuk melampaui kerinduan berkepanjangan. Pada kala yang begitu sunyi Kau luangkan waktu untuk menyentuhku. Membawa cahaya itu untuk mata redup ini. Ustadz Ahmad Sya’roni, kulo yakin hidup ini terlalu cukup dengan kerinduan. Karena saya telah menyaksikan Sampean dalam kecukupan bersama kerinduan. Salam kulo kepada Njeng Nabi !

“Had it not been for the love, you would not have shed tears at the ruins (of your beloved)

Nor would you become restless at the remembrance of the cypress (tree) the high mountain”

“How do you deny love after the testimony.

Borne against you by (such) reliable witnesses as your yours and your illness”

Bait itu belum selesai dilantunkan, bersenyawa dengan kepergian kawan dihari dimana ia semakin tak merasa semua akan terjadi.

Setelah disini, saya pergi kelain tempat bernama gelap. Dari sana saya mendengar Khairon, kemudian dalam jeda Izuddin, Rindi, Churil……….

Sperti kita berada disebuah ruangan berbangku. Guru bersahaja memanggil satu persatu nama-nama. Jika yang lain mengatakan “Hadir” yang lain mengatakan “Saya” yang lain mengatakan “Tidak masuk” yang lain mengatakan “Absen” yang lain mengatakan “Izin” yang lain bertingkah yang lain tak mendengar yang lain menunggu namanya yang lain haya melambaikan jemari,

Tapi, kenapa?

Kenapa Kalian lantas mengatakan “Siap”

“Siap”

“Siap”

“See You”

Masih ingin kulanjutkan ini. Membuat kalian mendengar dan berubah pikiran. Rnungkan, Bicaralah dengan Tuhan !

Ayo berkawan dan bermain melawan kerinduan. Memberi rasa bangga pada senja. terus berada dipelupuk sinar. Membikin sebuah catatan pada gumpalan kertas.

Kalian sudah merasakannya. Sekarang kembalilah !

Kita meloncat bersama !

Kita berebut bangku diujung yang tak terlihat !

Corat-coret langit. Bukan kah pensilmu masih baru..

Pecimu masih baru..

Masih baru..

saja..

ajal.

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: