Sekali Saja

.
Beberapa teman menanyakan perihal pernikahan setelah mendengar issue belakangan. Sekitar seminggu yang lalu saya melakukan kesalahan besar, bagi saya itu hanya sebuah hilaf saja, dimata sebagian orang yang (karena usia) berpengaruh. Entah sebagian orang itu saat itu lupa atau entah kenapa ia tiba-tiba bercerita khilaf. Tentu saya tidak tau dimana dan kepada siapa ia bicara celah orang (saya). Tiba-tiba saja terdengar pembicaraan banyak orang mengenai hal itu.

Sebagai seorang biasa, pasti memerahkan telinga jika mendengar berita tidak sedap tentang dirinya. Sekalipun apa yang diisukan itu benar (pembelaan macam apapun dari saya pasti tidak akan bisa diterima maka saya “benar”kan saja berita itu). Tapi tidaklah pantas bagi seorang yang dianggap tua dan berpengaruh berbicara aib orang. Ingat, ini bukan tentang terima dan tidak terima. Atau siapa yang lebih pantas dipersalahkan. Bukan. Ini lebih pada bentuk rasa hormat. Bagaimanapun saya menyayangkan, orang yang terhormat bersikap seperti itu. Yang dilakukannya itu bisa menimbulkan citra buruk dimata saya.

Kemudian apa konsekuensinya jika citranya buruk dimata saya? Saya tidak mengklaim diri sebagai seorang yang dinamis, atau bermasa depan cerah. Sehingga bisa merugikan mereka nantinya (entah rugi sosial, moral atau lebih sadis, rugi ukhrawiy). Tentu tidak mungkin. Begini, saya sebagai pemuda didaerah itu. Menurut apa yang saya lihat (saya tau betul keadaan pemuda didaerah saya itu): nilai-nilai moral seakan hanya menjadi penjara bagi pemuda. Jika hari ini saya berada dilain tempat, itu karena keresahan saya berada di daerah itu.

Intinya saya salah satu pemuda yang sadar secara moral. Saya mencoba pergi (dengan semangat akan kembali dikemudian hari) agar “terselamatkan” dari arus sosial daerah saya. Perlu dicatat, ini bukan semata-mata gaya seorang pengecut (boleh lah detik ini kalian memandang pemuda lari ini pengecut) tapi sebuah misi yang terencana dengan sistematis atau boleh dibilang visioner. Bahwa tidak sedikit orang tua yang resah seperti orang tua saya. Pasti siapapun (termasuk sebagian orang tadi) bersyukur mendengar apa yang saya katakan ini. Saya tau karena orang-orang itu sering berdialog dalam keresahan yang sama. Mereka dan orang tua saya beberapa kali berdialog tanpa menggunakan alat interaksi apapun. Maksud saya orang-orang resah itu sama dalam cara berfikir. Mereka sama dalam analisis sosial dilingkungannya.

Bayangkan jika pemuda-pemuda seperti saya merasa sebagai pengeruh citra bagi sebuah daerah ! Bayangkan jika daerah yang sudah “sakit moral” kehilangan benihnya ! Maaf jika pembaca melihat kecongkakan dari tulisan ini. Saya akan memaafkan itu, tapi barangkali Pembaca bisa lebih dalam lagi melihat sisi kasatnya. Coba saja menjadi diri saya, walapun sejenak !

Ok, kembali pada issue pernikahan saya tadi. Sebuah cerita dimulai dari perbincangan dengan gadis di tempat yang dianggap tak pantas. Bagi saya, tidak ada tempat yang pantas bagi pemuda yang pacaran. Saya menganggap “pacaran” adalah penghianatan terhadap diri. Saya tidak pernah menyebut perbincangan saya dan gadis tersebut sebagai pacaran. Karena memang kami tidak seklise itu. Tidak ada perangai “konyol” pada perbincangan kami. Setelah saya mendengar issue itu, saya langsung memutar ulang rekaman kejadian seminggu lalu. Benar-benar saya cermati detik-demi detik pertemuan saya dengan gadis itu.

Keputusan saya adalah tenang dan tersenyum. Jika memang bisa dikatakan terlambat, memang benar, tentu saja bukan karena saya tidak terbiasa dibicarakan banyak orang, Haaa. Lebih kepada nilai kekonyolannya setingkat kartun Doraemon, sarat jahiliah. Tidak pantas saya berbicara demikian. Tapi harus dengan bahasa apa? Sungguh ini menjadi pelajaran berharga kususnya bagi saya.

Dalam satu keluarga besar, tidak ada renungan lebih hidmat daripada saling mengerti. Dalam keluarga tidak ada menghujat, hanya saling menasihati. Dalam keluarga sangat indah jika tidak bersandiwara. Sejak awal sudah saya katakan maaf, dan itu bukan berarti sudah mewakili. Melainkan keresahan saya hari ini adalah untuk menyapa Kalian esok. Semoga !

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: