Ibu-Ibu Muda dan Peminatnya

.
“Da ibuibu hamil, elok sekalii..” kira-kira begitu pesan singkatnya. Saya hanya mencoba menebak saja, ada pesan lain didalamnya. Pasti ia sedang membuat sebuah cerita, tiga tahun cukup untuk mengenali lelucon seorang kawan. Teman konyol satu itu lebih suka saya sebut menyimpang, dia tidak mau disebut punya kelainan. Betapapun yang dilakukannya itu bisa dikatakan “kelainan yang menyimpang”.

Tidak ada yang salah dengan siswa SMA yang suka melihat ibu-ibu segar, maksud saya ibu-ibu muda. Bagi seorang lelaki, mata adalah alat kelamin dalam bentuk lain. Hanya dengan melihat saja, lelaki sudah bisa berada pada pucuk “klimaks”. Tentu tidak seperti yang Anda (wanita) bayangkan, lagian obyek satu-satunya adalah wanita. Kenapa demikian, tidak lain karena hanya mahluk bernama wanita lah yang paling berhak atas “lelaki”, begitu juga sebaliknya. Saya tidak berani mengatakan; jadi, wanita punya mata yang sama dengan lelaki, walaupun sebagiannya lebih parah.

Saya mencari jawaban sampai pada apa yang kawan saya sebut sebagai diri. Tidak ada yang salah jika ada seorang kawan yang tiba-tiba mempercayakan ceritanya untuk saya dengar. Tentu saya berperan sebagai seorang kawan sepermainan, bukan psikolog. Disitu saya tidak hanya mendengar, boleh lah Pembaca beranggapan bahwa sesungguhnya saya sudah terjebak pada the circle of klise, saya berupaya “menjadi” dia. Saya anggap itu perlu karena mendengar adalah nama kecil dari pahlawan. Pahlawan itu selesai.

Yang saya lihat, kelakuan dia suka pada ibu-ibu daripada gadis muda adalah semacam kekecewaan. Saya melihat ada rasa kecewa mendalam terhadap “kualitas” gadis disekalilingnya. Kawan saya itu memang sangat selektif dengan apa yang akan ia kenakan. Dia kecewa atau barangkali menyindir para gadis dengan mengatakan “Jadilah Kalian seperti ibu-ibu itu dalam kematangan !” Bagi saya ini terlihat memaksa, tapi sebenarnya tidak. Apa yang dilakukannya adalah sebuah puisi. Dan puisi selamanya tidak bisa dipersalahkan. Walaupun puisi itu bertindak sebagai oposan atau bahkan pemberontak.

Adalah sebuah kewajaran jika seorang gadis terlihat anggun, matang, (apa istilah tidak jalang?), dan sudah siap dengan berbagai macam kehidupan. Ada kesempurnaan dalam djiwa seorang ibu. jika ada wanita yang sudah disebut ibu, berarti dia sudah menyelesaikan masa “menjadi”nya. Artinya seorang ibu, sekalipun masih baru atau muda, telah matang dan siap panen. Terserah Pembaca ingin menyamakan dengan istilah apa.

Sayangnya kawan saya yang selektif tadi sama-sekali tidak pernah menemukan gadis “ibu-ibu” itu. Lantas apakah dia akan komitmen sehingga benar-benar akan sunting ibu-ibu? Setelah saya uraikan sepanjang ini saya simpulkan; kawan saya sedang membuat sebuah cerita. Tokoh utamanya saya dan dia dalangnya sekaligus “lakon” yang selalu menang. []

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: