Senyuman

Udara menyapaku agak sinis siang ini tak kubalaslah ia seolah aku adalah mesin ketik yang sangat tak membutuhkannya. Kulupakan jasanya melantunkan nafasku mulai awal ditiupkan ruh dibilik-bilik raga lemah diruang sempit rahim ibuku. Ia juga yang rutin mengirim bahan baker untuk mesin uap dalam tubuhku sehingga tak sedetikpun jantungku pernah berhenti. Jantungku tak pernah lalai melakukan tugasnya yang nelelahkan.

 

Udara bersikap tak seperti biasanya hari ini, beberapa waktu yang lalu aku masih bercengkrama hangat dengannya menuntun dadaku mengembang-mengempis menikmati desah sentuhan mesra. Menutup tirai mataku sambil meraba lepas sejukkan seluruh tubuhku. Tapi saat ini aku marah pada udara dan mengapa ia begitu cepat berubah memusuhiku. Tanpa permisi ia seenaknya masuk rumahku membawa racun yang menebar di ruang nyata di lingkunganku seluruhnya. Tak terkecuali celah-celah sempit suci tanpa dosa itu. Mengapa?

 

            ~@~

 “Puji syukur untuk Tuhan yang telah menghidupkanku setelah matiku” pagi itu aku bangun dari lelap tidurku. Kuhirup nafas dalam-dalam tak ingin kulepas kesejukan yang kudapatkan saat itu. Sejenak kututup mata kecutku memaknai pesan-pesan udara pagi untukku. Aku merasakannya, Tuahan mengutus malaikat untuk meniupkan ruh baru diawal pagiku.

 

Kuperhatikan hati mungil belahan jiwaku. Ia Nampak lelap disampingku. Seolah aku baru sadar jika hidung mungil itu telah lama memendam rindu belaian kasihsayangku. “Maaf, ahh,, rasanya tak cukup hanya dengan beribu kata semacam itu sebagai penebus dosaku padamu anakku” aku berbicara sendiri, oh tidak, aku tidak sendiri. Aku berbicara kepada anakku, aku tidur bersamanya malam ini.

 

Berbeda dengan malam-malam kemarin, hari-hari kemarin, banyak waktu yang lalu. Yang kubiarka anakku menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri, berjalan menemui temen-temen di sekolahnya dengan sendiri. Pulang membawa lelahnya tanpa kutanyai perihal pelajarannya tadi seperti layaknya sang ibu-ibu yang lain. Tentunya yang begitu menyayangi anaknya. Sesalku dalam dipagi ini.

 

Belum selesai aku membedah sesalku kepada diriku sendiri, Tuahan menegurku dengan santun. Dayu adzan membelai telinga menyudahi malas. Bergegas beranjak berdiri, kusempatkan menyelimuti bahu anakku yang nenantang udara berharap ia semakin lelap.

 

“Ibu pegi dulu” aku harus pergi bekerja sebelum ia bangun, jika tidak ia akan mereangek minta ikut dan membuyarkan kerjaku. Itu hanya sekedar alasan agar ia tak mengikutiku, malah ia akan jadi penghibur hati jenuh di tempat kerjaku “rajinlah bermain dengan temanmu di sekolah, lupakan radsa rindu kasihmu pada ibu. Ibu yang menyi-nyiakanmu”

 

            ~@~

 

Hari itu si manis kecilku berulang tahun. Sungguh aku benar-benar lupa hari itu. Hari dimana aku juga entah sengaja ingin melupakan hari,tanggal bulan yang sama ditahun-tahun yang lalu.

 

Empat tahun yang lalu rahimku mengempis. Kusambut bahagia kehadirannya. Meski dunia menyayangkannya, mengapa gadis cantik mungil harus terlahir dari rahim kumuh.

 

Terlahir sehat seakan saip menantang udara dunia. Wajah oval mirip laki-laki yang dirahasiakan Tuhan dari bayi ini. Laki-laki itu lebih memilih bersanding dengan Tuhan daripada menunggu anaknya terlahir. Dia berlari dari tempat kerjanya diseberang, secepat waktu begitu mendengar air ketuban mengalir dari rahimku melalui tlpon majikannya. Begitu cepat larinya mengalahkan kecepatan truk sejengkal lebih depan. Aku menyesal mentelponmu suamiku.

 

Gadis manisku itulah yang mengingatkanku kepedihan empat tahun silam. Diulang tahunnya aku tak memberinya kado apapun. Bahkan senyumpun tidak. Setelah kulihat kotak kertas polos untukku bertuliskan hiruf  I dan U dengan gambar hati antara keduanya. “Maaflan ibu aankku !” diulang tahunnya ia memberiku kado. Seharusnya aku yangmenulis huruf I dan U dikotak kosongku nutukmu.

 

Kurengkuh tubuh kecil yang mendekapku. Bersamanya kami buka kotak pemberiannya. Tak karuan hatiku dibuatnya. Ternyata masih ada kotak yang lebih kecil didalamnya. Kejutan yang membuat hatiku tak bisa berkata,, ooh buah hatiku. Anakku tertawa lepas sukses mengejutkanku. Sekali lagi kita membuka kotak bersama-sama “Tarimakasih Sayang” kukecup keningnya  setelah terlihat ternyata masih ada kotak yang lebih kecil lagi. Kali ini kotaknya lebih rapi. Tidak kubuka kotak terahir itu. Kotak bekas bungkus kosmetik yang hanya berisi puisi kerinduan. Kubaca dari salah satu sisi kotak yang sudah terbuka sengaja.

 

            ~@~

            “Sayangku,

            Maafkan ibumu ini yang jarang memelukmu

            Aku bisa mengerti rasa rindumu pada ayahmu

            Ibu dan ayahmu sama-sama jarang mendekapmu sayangku

            Mengapa gak berpamitan sama ibu sayang

 

            Apapun buatmu sayang

            Mungkin kau akan lebih bahagia bersama ayah disana”

 

            ~@~

 Rumahku tesulut api dari pumah tetanggaku  yang lebih dulu habis oleh udara panas ganas. Saat tak ada seorangpun yang tahu anakku masih terbaring lelep bersama kotak yang hanya berisi puisi kerinduan.

.

 .

 .

TBI, 24 Pebruari 2012

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: