Semua Berfikir

Mengenang tokoh peradaban membuat sebagian orang melupakan sedikit deritanya. Bahwa dia akan menemui kegelapan jika itu terus terjadi. Misalkan seorang siswa maniak membaca, ia akan masyuk dengan teks dimatanya. Ia akan sibuk menempatkan dirinya dalam teks tersebut. Sekiranya tidak demikian, maka ia telah menghabiskan waktunya dengan membaca. Itu sesungguhnya bagus dan membanggakan kelihatannya. Sebagian akan menilai dia calon cendekiawan.

Siswa itu barangkali tak peduli dengan sekelilingnya. Ia melupakan bacaan yang mendesak harus dia baca. Membaca kawan-kawannya yang sedang bermalas-malasan. Biasanya ia akan berbicara apa saja yang sudah dia telan. Jika tidak bisa disebut orang dengan mulut orang lain. Seharusnya ia sudah tau bahwa ada lingkungan yang juga bisa dibaca. Melalui teks ia seharusnya sudah menyadari ada keresahan yang tak sama dengannya. Mungkin kawannya yang pemalas sedang tak tahu jika ada mahluk yang namanya penyesalan.

Jelas ini membuat siswa yang pambaca tadi menjadi berkewajiban bertindak. Lebih penting menjadi broker dari pada hanya sekedar membaca. Ia layaknya dalang dengan wayang yang hidup dan tak mau diatur. Bagaimanapun itu harus jadi sebuah panggilan. Pembaca, Pendengar, Penulis dan Pemikir harus juga berada di depan dalam sebuah kegelapan. Ia menjadi lentera yang merenung. Sedangkan kawannya menjadi pemilik cahaya dan tugasnya hanya melakukan yang ia suka. Jika ada kesalahan, pantaslah karena pemilik cahaya bukan sumber cahaya itu.

Dilain cerita ada seorang pekerja dengan sense of life yang tinggi. Ia bekerja dalam benak para pemikir. Bisa membopong pemikir adalah sebuah kehormatan tiada banding. Bekerja sepenuh dengkul tanpa mengharap semu dari seorang pemikir. Karena memang pemikir tak bisa diharapkan materinya. Si pekerja selalu semangat dengan api yang dibawanya. Walapun ia hanya sebagai gagang penyangga, namun ia tumbuh dalam lamunannya sendiri. Bisa jadi, menurutnya, lamunannya lebih menjanjikan dari api yang dibopongnya.

Tapi apalah arti itu, membiasakan diri dalam kerendahan adalah hal luhur. Pekerja, apa yang dia harapkan dari pekerjaanya. Praktis hanya karena tanggung jawab. Setulusnya ia tak mencari lebih banyak beban. Ia cukupkan dengan memenuhi janjinya pada keadaan.

Dua sisi yang seolah menjadi tak menarik jika diperbincangkan lebih lanjut. Bagaimanapun itu menjadi bagian yang tak boleh semena-mena dilepas dari proses pemikiran. Seandainya ada yang lebih memahami itu lebih dalam, indah sekali antara keduanya.

Bersama-sama lah kita berfikir menurut sense of self kita masing-masing. Jadi semacam melakukan banyak hal yang satu tujuan. Dalam karya tua diistilahkan dengan “ngrogo”

Jadilah ini renungan bersama para mendiang pemikir yang telah melampaui hidupnya dengan tragis.

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: