TERLAHIR DIWAKTU DUHA

Ketika itu aku terlahir di pagi hari pas waktu dhuha. Kutawarkan sesuatu pada dunia baruku bahwa aku akan mengenalnya. Ia Nampak setuju dan menerimaku dikediamannya yang lampau. Ibuku pun tak henti-hentinya mengajakku bergembira, celaka aku saat itu karena aku belum tau nama warna diwajah ibuku. Pantaslah, waktu itu aku masih dibelai oleh Tuhan.

Belum sampai waktu selanjutnya nyawaku sudah menetek diketiak ibuku yang basah. kusangka itu adalah susu yang baru kukenal sekarang, namun ternyata itu adalah air dari keringat di dahinya. Tak apalah, aku sudah lupa rasanya, ibuku juga lupa jika aku bercerita itu kembali. Padahal aku ingin sekali ibuku menggantinya dengan air matanya. Sama sekali aku ingin menghabiskannya saat itu yang melelahkan rahim ibuku.

Masih belum mampu menghirup cahaya oleh mataku yang padam. Jujur, aku tak bisa melotot seperti aku yang sekarang, melotot dipantat orang asing.

Hingga kecupan demi kecupan ibuku mengajarkanku awal kehidupan. Aku masih sangat lalai. Tapi ibu bercerita dalam hatinya pada hari itu hingga kematianku kelak. Tak mungkin diceritakan kembali karena ceritanya singkat menjulang. Yang kudengar saat itu adalah derai nafasku sendiri. Sulit dimengerti.

***

Berjalan ke sekolahku seperti berjalan menempuh jalur naga raja emperor. Sering kali tikungan yang terlewati menyisakan bayang-bayang. Pantas lah jika dilain waktu musim penghujan dan dilain waktu musim lainnya hujan. Siapapun akan segera tau kalau ada bintik-bintik peluh di dahiku.

Aku tak suka mengikuti ritual berbaris sebelum masuk kelas. Aku sudah lelah berjalan dengan tulus. Perjalananku melebuhi  hidmadnya berbaris sebelum masuk kelas. Hariku lebih disiplin dari itu. Pagi-pagi benar aku sudah berbaris rapih dengan bapak ibuku. Awal hariku mengikuti jarum jam. Jarum itu penunjukku jika aku harus melakukan apa pun di rumahku. Bahkan perjalananku ke sekolah harus satu jam jika berjalan dan setengah jam lebih seper tujuh menit jika seperti berlari.

Berbaris sebelum masuk kelas membuatku semakin lelah. Jika aku lelah, Belajarku tak sungguh-sungguh. Jika belajarku tak sungguh-sungguh, ijasahku hanya sampai tingkat dangkal. jika tingkat dangkal, pekerjaanku hanya bisa tutup mulut. Jika tutup mulut, bangsaku dirugikan karena mencetak penutup mulut. Jika bangsaku rugi, aku dihukum sedangkan pimpinan barisan sebelum masuk kelas dibunuh dan guruku harus selalu dihormati jasanya. Tak boleh tidak.

Ritual itu ku lakukan setiap hari sepanjang tahun selama sekolah. Bertahun-tahun aku memakan makanan pedas pendidikan. Biasanya fikiranku menderita sembelit jika serius. dan hilang sesaat setelah kelereng atau layangan menjejali gerakku.

Tapi tak sia-sia, aku semakin tau banyak kesalahan orang. menganggap nasihatku tepat untuk orang itu. Pernah aku dididik untuk menyembunyikan aib. Waktu itu masa akreditasi sekolah. Aku lulus ujian menyembunyikan aib dengan nilai B, BERHASIL. Entah hasil apa.

Aku memaksa benakku untuk  tak sebersit pun menyesal telah sekolah, dimana pun itu. Guru siapa pun itu. Aku sangat yakin saat itu aku belajar selain pedas pendidikan. Belajar melintasi jalanan sepanjang arahku ke sekolah. Belajar meminta awan menaungiku ketika pulang sekolah. Belajar bertegur sapa dengan persawahan dan pemilik rumah yang setiap hari ku lalui. Belajar bertahan ditindas kawan jenaka. Belajar menghindari derita sembelit.

Selalu tak bisa ku putar kembali rekaman hidup itu. Seperti tak percaya sudah delapan tahun melintasi jalan jauh menuju sekolahku. Mungkin jika sepanjang jalan itu keset ampal pasti penuh jejak sepatuku. Sungguh waktu yang cukup untuk menyelesaikan jenjang magister. Luar biasa.

Sejangkal-sejengkal aku mulai paham apa yang dulu membuat pikiranku sembelit. dengan malu-malu aku banyak membicarakannya. Beberapa kali guruku menuntun pembicaraanku. Aku ingat kembali macam-macam perilaku terpuji dan tidak seperti yang tertulis di buku punyaku dulu.

Bisakah aku mengelak keadaan dimana aku dan lawan bicaraku menjadi seperti petinju yang sama-sama benar. Berbicara ke-arif-an, hikmah, dan bijak. sangat lama dengan pembicaraan sehingga aku lelah. Tanpa sanggup melanjutkan perdebatan. KO oleh kebenaran yang terbantahkan dengan yang lebih benar.

Saat ini aku sedang mengarang waktuku seindah redup oblek)* yang bisa kuatur pancaran cahayanya. Benar-benar menjadi terlahir dari rahim ibu diwaktu dhuha.

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: