Kopyah

Setiap subuh aku dibangunkan oleh suara mesin jahit. Waktu itu aku tak sungguh-sungguh peduli perihal apa yang dikerjakan ibuku. Fikirku beliau hanya ingin berolahraga dan sekaligus dengan sengaja membuat suara gaduh agar aku terbangun. Karena kuakui jika aku sulit bangun subuh. Berbeda dengan ibuku yang terlihat lelah diwaktu maghrib sehingga terbangun sebelum benar-benar malam dan tak tidur sampai terlihat lelah diwaktu maghrib keesokan harinya.

Sedari kecil ibu tak pernah membelikanku baju. Selalu saja ada karya desainnya, untukku, untuk keluargaku. “Jangan memperbodoh diri dengan membeli barang yang mampu kita buat” kata ibu.

Ibuku memang sangat kretif. Apapun yang bisa dilakukan mesin jahit beliau jahit. Kasur, bantal,boneka, sprei, korden, daster, celana, baju seragamku tak membeli dari sekolahan, tas sekolahku terbuat dari tapas kelapa yang dijahit, sepatu olahragaku, aku tidak membelinya. Baru aku sadar ternyata sedari dulu baju yang paling bagus dikeluargaku adalah baju ibuku. Dan sedikit sekali menjahit sesuai model keinginanku karena desainku tidak ada dalam rumus jahit-menjahid kata ibuku. Aku tertawa menertawakan ibuku dan ibuku tertawa menertawakan aku.

Sejak saat itu ibu enggan menjahitkan baju untukku. “Lihat sekali dan kamu tidak boleh meminta lagi” ibuku mengajariku menjahit baju.

Beliau benar-benar sudah bosan mebuatkan baju untukku. Sungguh dalam hati aku masih ingin dibuatkan baju. Tapi kata ibu sudah waktunya aku mengerti arti menjahit baju.

Bagi ibu menjahit baju adalah menyelesaikan sepertiga dari kehidupan. Sisanya adalah mengisi perut dan membangun tempat berteduh. Kedua dan ketiga bisa kau rengkuh dengan menjahitkan baju orang yang tak mampu menjahit baju. Kehidupan ibuku seperti mesin jahit, berputar kearah yang sama, namun meninggalkan jejak di sudut-sudut kain yang berbeda.

Aku mulai mencoba berjalan menyusuri jejak kaki ibuku yang membekas di bawah mesin jahit. Mesin jahit ibuku tak pernah berpindah kaki sejak pertama membeli, oh dibelikan nenek diwaktu remaja ibuku. Mesin jahit yang digerakkan kaki selama itu menyisakan bekas telapak kaki ibu. Sehingga aku tak pernah merasa sulit menyusuri jejak kaki ibuku.

Benda pertama yang kujahit adalah kopyah)* punyaku, putih warnanya. Setelah itu entah kemana. Ingin kusimpan sebagai kenangan hasil jahitanku yang pertama. Temanku meminjamnya. Selanjutnya aku menjahit kopyah lagi yang kedua. Temanku meminjamnya pula. Kujahit lagi kopyah yang ketiga dengan hati-hati, nampak lebih bagus dari yang pertama dan kedua. Kujaga ia sebagai mahkota pribadiku.

Dilain waktu aku ingin mempunyai dua mahkota. Kujahit lagi sebuah kopyah. Nampak sedikit lebih baik dari kopyah sebelumnya. Bergantian kupakai dua mahkotaku didepan cermin. Dan memang benar, kopyahku yang baru lebih bagus dari yang sebelumnya. Sehingga terfikir dibenakku untuk meminjamkan kopyahku itu, tokh aku punya yang lebih bagus. Begitu setiap aku menjahit kopyah yang baru.

Ibuku nampak kesal denganku. Beliau mengajariku menjahit baju tapi aku melah menjahit kopyah sesuai desainku yang tak ada dalam rumus jahid menjahid. Tapi temanku suka dengan kopyahku. Kopyahku nampak ketika taman-temanku akan beribadah di surau.

“Ya Tuhan, itu kopyah yang kujahit, maka alirkan sebagian pahalanya untukku!” do’aku ketika melihat mahkotaku diatas kepala teman-temanku. Sekarang dengan senang hati aku meminjamkan kopyahku, bahkan menjahitkannya untuk temanku. Jadi jika melihat kopyah, semuanya sudah pernah kupakai sebelum kupinjamkan.

Melihat tingkahku ibuku semakin tak mau menjahitkan baju untukku.

“Semakin kau menjahit kopyah baru, semakin bagus hasilnya. Jadi tak perlu aku menjahit untukmu. Cobalah membuat baju seperti kau menjahit kopyahmu !”

Kupikir benar kata ibuku. Namun itu membuatku kesal dan kehilangan minatku menjahit kopyah. Tapi aku tak punya baju. Terpaksa perlahan aku mulai mau menjahit bajuku sendiri. Sedikit terasa mudah, semudah menjahit kopyah. Hasilnya tak buruk. Keinginanku semakin ingin menjahit baju. Baju keduaku lebih bagus. Tapi sama seperti kopyahku, dipinjam temanku.

Sehingga jika disurau itu nampak mahkota dan jubah hasil jahitanku, aku akan mengadu

“Ya Tuhanku baju dan kopyah itu adalah jahitanku. Maka alirkan sebagian pahalanya untukku!”

Banyak baju dan kopyah disurau itu hingga kini aku merasa ibuku telah mengajariku menyelesaikan sepertiga dari kehidupan.

)* Kopyah adalah topi sederhana yang biasanya dipakai orang muslim ketika beribadah.

)** Surau adalah tempat beribadah orang muslim. Seperti masjid namun lebih kecil.

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: