INDUK

Sampai ada cicit-cicit yang menenggelamkan. Berbesar kepala dihadapan raja. Mengecut seraya berkata bahwa ada rasa yang tak lagi terasa. Sebenarnya ini hanyalah duka tersimpan. Mengapa para pendeta bersedih durja. Jangan lupakan petaka jika ingin lekas sembuh. Biarkan apa saja dilumat. Jadikan itu bekal bersama para pendeta. Biarkan saja, biarkan saja.

Melamunkan ramalan gua temaram. Janji kedamaian berlangsung smruingah. Ditengahnya berderet selogan-selogan kecil berbicara keputus asaan. Sekali jangan, biarkan saja, biarkansaja. Bisa-bisa kamu tertelan darah. teruslah berjalan hingga para pendeta berhenti menegurmu. Walau sendimu merasa bersalah, biarkan sajaa-biarkan saja. Hidangan semakin usang.

Hilangkan keringat dengan jilatan angin. Ujarnya berkata seadanya. Selalu bebisik menemui hujan. Tanpa janji yang pasti. Biasanya ia hanya mampir dikediaman hutan. Dan tak tau jalan pulang. Ada saja tingkah hujan. Datangpun takada yang dilaporkan kecuali sisa-sisa nafasnya membuat sendi-sendiku terasa letih. Gemuruh decak hujan hanya dia perdengarkan sendiri. Ia lantas pergi begitu saja. Memulai decak baru di tempat baru nun jauh. Mungkin juga dilain muka.

Keparat bagi sebagian orang yang tau hati. Sebagiannya hilang tak peduli. Sebagiannya pergi.pejalan kaki menilai ini keindahan ruh. Jempolan yang ia sukai menjadi segumpalan wangi. Seraya berbinar tanpa jeda. Mulailah berjalan kau! Biar semua yang terlewat menjadi muram. Jempolmu membuat wangi semua kerajaan terlewat. Sehingga kedatanganmu dinantikan.

Parjalananmu tak peduli dengan asap wewangian. Bak seorang ingusan yang tak tau terimakasih karena dilupakan seumur hidupnya.banyak yang mengatakan sesungguhnya. Banyak pula yang mengatakan ribuan terimakasih hanya dengan sekali tending. Tak ada kepantasan dikerumunan keributan. Hanya perabot dunia ini yang tersedia. Untuk siapa kami melagukan panah tentara?

Di kota cahaya ada ribuan temaram bermuram. Ia tak lagi berguna. Pasalnya hanya ada kutukan terpercaya, terperdaya. Mungkinkah semua orang bisa bertanya.” ternyata kerja keras lebh berguna daripada kecerdasan ketika kecerdasan tidak mau kerja keras”

Akankah bermuara ditepian badai? Menemui reruntuhan kesepian yang hilang bersama arusnya.lebih keras lagi jika tuan rumah tak peduli keadaan kambing hitam disisinya. Sepanjang hari bejibaku dengan keheningan tapa. Membiarkan diri melamunkan senja. Sambil meremas-remas hujan. Meski dingin membelenggu, pantang bagi kesatria macam ni balik. Tas sudi kah kau melebarkan jaring? Menancapkan jangkar? Membiarkan asap tebal jingga bersenyawa pulam dengan paru-parumu?

Kau akan mati dan setelahnya kau masih tetap menempuh kematian. Hidup kau hanya tersisa satu nafas. Habiskan dulu apapa impianmu. Jika masih belum, sisakan untuk gembalaan kau. Bahkan gak ada satupun yang peduli. Semua berjibu dengan kelaminnya masing-masing. Dengan nafasnya masing-masing. Semua kau buat seperti dirimu pribadi. Mengarang pun harus seperti kau. Tidak akan sampai pada sesungguhnya. Bilakah selesai pun kau tetap berada di paksa. Sembarangan membuang hati akan nmenjadi garam tanpa asam. Biarlah sesungguhnya terjadi lagi keesoan hari. Bukti bahwa peradaban kembali terungkap pada waktu.

Jika suatu hari aku melintasi perempuan kuil, tak segan aku menatap pengelihatannya. Perempuan kuil memang sudah jenuh dengan dunia tatap-menatap. Kisahnya dulu ia sering mencongkel keheningan dengan gaduh di hati lawan bicaranya. Tapi tetap saja perempuan itu yang meraba api. Merpati bersahutan pandang, pantaslah jika berduanya jatuh beercimta. Menuai kegemaran Adam di surga. Tapi apa bisa dengan tujuh lipat rasa? Seperti itu, mungkin hnya bisa dirasa bila sudah waktunya namti. Terlalu dini menelaah kegemarannya di surga. Gampag lah jika suatu saat sepertimu membuat rasa tujuh lipat rasa. Perempuan tawaran nafsu tak segera muncul. Pagi sekali tak tunggu untuk selanjutnya bertolak pergi. Tak juga melambai pergi tak pula tersenyum berharap kan datang lagi. Seandainya kawanmu melihat itu. Semuanya akan menjadi tak berguna. Semua menjadi seolah pergi begitu saja. Melambung terlalu tak sampai pada kekangan tak tentu.

Berlarilah kawan. Semoga kau cepat menghilang berlarut dan terus asik untuk dikenang. Siapakah yang kau sebut kalah itu? Tentu bukan dirimu sendiri kan? Terlambat jika kau menghawatirkan sepele. Bukankah masih ada sisa bekal yang belum dibuka? Dikantung resapan kemih. Setiap hari kau bawa kemanapun itu tempatnya. Bisakah itu dilepas sejenak saja?
Tak urung manusia terlambat pergi.menemui purnama hajatnya. Menghampiri trets murung penglihatan. Jika memang itu terjadi maka tak lama. Itu hanya sebuah agan sebentar lagi jemu juga. Cicak beribadah pun akan tau hal ityu. Rasakan bila tak ingin hidupmu pasi. Sempurna sudah, semuanaya menjadi terbelakang. Menjadi terkekang. Menjadi sangat tak berguna. Menjadi kesepian teramat pilu. Seandainya para penggenggam perut setujku dngan angan lampau maka itu hanya angan siasia. Sudah lah.

Jangan perbanyak hidupmu dengan kehangatan tak berguna. Bisa jadi selama ini peradaban menjadi kekonyolan biasa. Dan semua jadi merinduka kelam. Terlalu lama sangat. Indonesia terlalu banyak berani dari pada tidak berani. Seng waras kudu menang, jangan kalah!

Itu urusan lain jika manusi atak lagi berbicara lain. Seandainya kita diam dan pura-pura tidak tau. Bagaimana manusia itu bisa digiring menjadisadar diri jiak tak punya infra stuktur. Bisakah mala mini menjadi segumpal malam berbahagia? Rasnya tak mungkin mendaji seperti itu. Bilamana terumung membias di mala mini maka menjadi amat mungkin. Tapi temurung hanya ada didalam angan semu.

Menjauhlah dariku ! aku tak ingin semua menjadi berhala desung. Aku bisa membuat kalian mendesung seperti berhala-berhala itu. Maka lekas tinggalkan aku menantilah kebaikan diri kalian sendiri. Aku akan tak terbiasa meninggalkan kalian. Sampai kapan. Kalian memaksa burung bawaan kalian? Mulailah sendiri maumu berlebihan itu.

24/12/2012

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: