Cerita Bak Mantra

Mengingat itu membuat sembelit. Tak ada cerita lebih aneh dari cerita-cerita mistisisme pesantren. Bayangkan saja jika ada dua jasad dalam satu masa dan dua tempat. Bayangkan ada lelaki yang dituakan menjadi diam tak menerima tamu dirumahnya. Bayangkan saja seorang pemuda harus menjauhi keramaian dan pergaulan dengan sesamanya. Bukan main ngerinya.

Ada lagi cerita negeri surga. Cerita ini adalah wasiat leluhur. Pada setiap perkara dan generasi pasti menjadi wajib bercerita. Bahwa dalam setiap manusia ada ahirnya.Gaya bercerita mistis turun-temurun. Setiap bercerita surga musti tersenyum pada jeda yang sama. Harus juga mendongakkan kepala ketika mengharap disana bersama para Shalih. Bahwa disana tidak ada rasa yang ada dialam sejak leluhur bercerita. Nikmatnya sebuah batu melebihi susu dan madu.

Berbeda dengan cerita selanjutnya, lebih sembelit dan memerah. Jika leluhur bercerita Surga ia tak lupa mengingatkan ada juga Neraka. Tempat terhina bagi para penghina. Semua orang yang menghina Allah, neraka tempatnya. Tidak bisa tidak, menghina lebih dari sekedar bercerita bantaian manusia. Menghina lebih kejam dari pada hanya tidak percaya. Tidak ada suap dan ganti pepatah. Serba mengerikan di Neraka, penuh api dan siksa.

Juga masih banyak sembelit yang lainnya. Dahulu mendengar cerita sembelit memang tidak terlalu membosankan, menyenangkan malah. Tapi tidak kalah sembelit jika menemui sorang tua yang suka bercerita. Seperti dahulu tidak ada tempat lain yang lebih menyenangkan selain surau. Di surau anak-anak saling beradu dada. Mereka diajari menjadi budiman tanpa lemah.

Bagi semua yang mendengarkannya, pasti terdiam dahulu tanpa bertanya. Manakala ada bocah bertanya, dilemparkannya mata memutus pertanyaan. Jelaslah si bocah tertunduk menyimpan kalimat yang selamanya jadi beban fikirannya. Tak lama seorang bocah bersedih. Crita selanjutnya lebih jenaka, membuat sembelit.

Suatu cerita pualam yang menerangi setapak. Sepanjang kegelisahan ada duri-duri dibalik telapak. Dengan mantra segepok tak bisa melepaskan duri di telapak. Diundanglah santroh, sebutan bagi jenaka pembersih surau. Kata beberapa mulut Santroh bisa menekan rasa. Tapi ada mulut yang bercomot bahwa Santroh mau menekan rasa jika ada singkong rebus. Benar saja, di surau tidak ada bata yang bisa buat isi perut.

Lekaslah disiapkan singkong rebus untuk si Santroh. Setelah siap, telih bergegas mengundang santroh untuk datang. Dari ujung dada sampai ujung punggung dibacakan mantra. Usapan hanya terasa di dada. Katanya adem saja tak terasa seperti dibacakan mantra.

Sambil bercerita beberapa telik yang mengundangnya, Santroh sungguh jenaka. Dirasa telah ahir ritual tanda habisnya duri, biasanya semua yang hadir bernafas dengan panjang serta berdo’a. Semoga saja Duri itu jika kembali ingat akan wajah jenaka para sakit dan Santroh. Semoga saja santroh Pergi tanpa ketularan duri. Semoga sepanjang setapak menjadi sedikit yang tersisa.

 

About aulye

Santri -sebutan saya- tak tau jalan keluar!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: